[Artikel saya ambil dari Koran Tempo, edisi 17 Juli 2007]. BANDUNG – Institut Teknologi Bandung sedang mengembangkan sistem jaringan untuk mengatasi kesenjangan digital. Nama sistem jaringan itu Rural Next Generation Network. Lewat sistem itu, masyarakat bisa memasang sendiri sistem dan mengoperasikannya, sehingga terbentuk sebuah komunitas digital.
“Kami percaya, dengan cara ini, masyarakat bisa menjangkau peralatan komunikasi yang murah,” kata Direktur Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi di ITB, Armein Z.R. Langi, Jumat lalu.
Sebagai uji coba, Armein mengungkapkan, sistem jaringan itu sudah diterapkan di dalam kampusnya. Sistem yang sama selama tiga tahun terakhir juga sudah dicoba dalam komunitas delapan keluarga di dua desa di kawasan Punclut, Bandung Utara. “Dengan menggunakan frekuensi radio 2,4 gigahertz, mereka bisa terhubung satu sama lain dan terkoneksi ke kampus ITB,” kata Armein.
Sistem memang baru bisa menjangkau radius empat sampai lima kilometer. Tapi Armein menyatakan pengembangan terus dilakukan, di antaranya membuat radio link agar jangkauan bisa melar hingga 100 kilometer. “Karena jarak antardesa di Indonesia jauh-jauh,” katanya.
Jaringan itu nantinya memang bisa sangat bermanfaat bagi masyarakat antardesa. Tapi sayang, Armein masih terganjal ketentuan selama ini bahwa masyarakat tidak diizinkan mengelola sendiri sistem komunikasi. “Kami masih menunggu bantuan dari pemerintah, terutama untuk mengatasi soal regulasi ini,” katanya. rana akbari fitriawan (bandung)

