jump to navigation

Agar Tanti Seperti Nicole Maret 19, 2008

Posted by ybandung in Rural NGN.
Tags: , ,
trackback

[Artikel saya ambil dari Koran Tempo, edisi 18 Maret 2008] Untuk mempersempit jurang digital dengan Rural Next Generation Network (R-NGN), Clover Reshad punya kebiasaan rutin. Pulang sekolah, gadis 12 tahun itu makan siang serta bercengkerama sejenak dengan Hector, anjing piaraannya, dan nonton TV. Kemudian ia naik ke kamarnya di lantai 2, menghidupkan komputer, mengerjakan tugas-tugas sekolah, sekaligus memperbarui profilnya di beberapa situs jejaring sosial, seperti Bebo dan Facebook.

Pelajar asal Godalming, Surrey, Inggris, ini juga tak absen berkirim pesan instan dengan teman-temannya lewat MSN atau memantau barang-barang baru untuk berbelanja secara online. Ini tak beda jauh dengan yang dilakukan setiap hari oleh Nicole Dominguez, gadis 13 tahun asal Miramar, Florida, Amerika Serikat.

Secara otodidak, ia menguasai kode-kode hypertext markup language, kode untuk halaman web dan cascading style sheet, kode penentu gaya halaman. Sebab, setiap saat ia memermak situs miliknya, http://www.sodevious.net. “Situs saya masih harus ditambah dengan sekitar 60 gambar, diperbaiki bagian tutorialnya, kuis, dan pindah ke server baru,” ujar gadis penyuka ikan hias itu. Sayangnya, tak semua orang beruntung seperti Clover dan Nicole.

Di negara berkembang seperti Indonesia, jangankan melek Internet atau mulai belajar komputer, seorang anak seusia Nicole malah nekat gantung diri karena tak mampu membayar uang karyawisata di sekolahnya. Kesenjangan semacam ini yang kemudian melahirkan banyak gerakan yang berupaya menutup jurang digital yang terjadi antara negara berkembang dan negara maju.

Belum lama ini, The Habibie Center, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta koalisi institusi dan akademisi melawan kesenjangan digital (IGADD) meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat penetrasi jaringan Internet pita lebar–Internet dengan kecepatan tinggi yang memungkinkan transfer video dan data besar–di Indonesia. “Kami mentargetkan peningkatan penetrasi koneksi pita lebar di Indonesia hingga 20 persen pada 2012 dari saat ini yang hanya kurang dari 1 persen,” ujar Ilham Habibie, Deputy Chairman The Habibie Center sekaligus Chairman IGADD di Indonesia.

lham, putra mantan presiden B.J. Habibie, yang jago ilmu pesawat, yakin target tersebut bisa dicapai. Menurut pendiri IGADD, Craig Warren Smith, sebuah koneksi pita lebar di negara berkembang akan dapat mendorong reformasi di bidang pemerintahan, di bidang bisnis, ataupun di bidang pendidikan. “Karena itu, kita perlu menciptakan koneksi pita lebar yang bermanfaat bagi rakyat, yang terjangkau, mudah digunakan, dan memberdayakan,” tutur Craig, yang juga penasihat di University of Washington serta beberapa institusi, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO), dan Bank Dunia.

Koalisi ini juga didukung oleh institusi akademik, seperti Institut Teknologi Bandung, serta perusahaan telekomunikasi besar, seperti Nokia-Siemens Network. Menurut Armein Z.R. Langi, Direktur Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB, untuk mencapai target penetrasi sebesar 20 persen (sekitar 50 juta penduduk), paling tidak dibutuhkan biaya investasi sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 46 triliun.

Namun, dengan teknologi Internet kolektif untuk pedesaan, nilai fantastis tersebut bisa dikurangi drastis. Dengan teknologi R-NGN, yang menggunakan teknologi Internet protocol, setiap desa memperoleh sekitar 50 saluran Internet dengan biaya investasi US$ 5.000 atau Rp 50 juta. Bila setiap saluran dikenai biaya berlangganan sebesar Rp 50 ribu per bulan, modal investasi sudah bisa kembali dalam jangka waktu sekitar 2 tahun.

Padahal, “Sebuah produk telekomunikasi biasanya masih bisa terpakai paling tidak hingga 7 tahun,” ujar Armein. Armein tidak hanya berandai-andai. Saat ini ITB sudah memiliki model R-NGN di daerah Subang dan di Punclut, yang terletak di lokasi perbukitan Ciumbuleuit, Bandung. Di Punclut, misalnya, ada sekitar lima warga yang telah merasakan koneksi ini. Hanya, mereka menggunakannya sebagai sambungan telepon melalui Internet (Voice over Internet Protocol).

Menurut Yoanes Bandung, peneliti ITB yang merancang R-NGN di Punclut, sistem ini sangat fleksibel dan perangkat-perangkatnya mudah dijumpai di pasaran. R-NGN bisa menggunakan jaringan telekomunikasi kabel ataupun melalui jaringan radio. Untuk yang di Punclut, Yoanes menarik sambungan Internet dari ITB melalui jaringan radio berfrekuensi 2,4 gigahertz. Ini adalah teknologi yang banyak dipakai oleh warnet.

“Jaringan ini pada prakteknya dapat menyediakan saluran Internet dengan kecepatan 2 megabit per detik (Mbps),” kata Yoanes. Artinya, dalam kondisi penuh, setiap pengguna Internet bisa mendapat jatah sebesar 40 Kbps. Meski demikian, warga Punclut sama sekali belum pernah menggunakan infrastruktur yang ada untuk berinternet.

Jangankan berinternet, “Memegang komputer saja saya belum pernah,” kata Tanti Wijayanti, siswi kelas VI sekolah dasar yang tinggal di Desa Punclut. Setidaknya, kini Tanti bisa menggunakan telepon, untuk sekadar menanyakan tugas-tugas sekolah kepada temannya yang berada sekitar 4 kilometer dari rumahnya. Memang masih jauh untuk berharap agar Tanti melakukan hal-hal yang dikerjakan oleh Clover atau Nicole. Setidaknya, jurang di antara mereka bisa dipersempit dengan teknologi rural NGN tersebut. INDRA DARMAWAN | NYTIMES | TIMESONLINE

Iklan

Komentar»

1. uwiuw - Maret 19, 2008

wah perbandingan yg kontras yah antara indonesia dengan ngara maju..semoga semua ini bisa dipersempt dalam waktu dekat sehingga kita pun bisa maju šŸ˜€

2. ybandung - Maret 24, 2008

Semoga Mas Uwiuw …

3. sade - April 24, 2008

kalo internetnya di kelola oleh koperasi setempat, dan masing2 rumah setidaknya punya 1 komputer, dan ada training untuk penduduk disitu, atleast yang bersekolah, misalnya Tanti itu, saya yakin mereka bisa seperti Clover dan Nicole. Atleast mereka dibiasakan membaca dulu lewat komputer.

ada ide lain sebenernya nih, tapi mo disusun dulu ah

4. ybandung - April 26, 2008

@ sade:

Akan sangat baik kalau ada koperasi setempat yang bisa mengelola sarana TIK di pedesaan, dan memberdayakan warga yang berpotensi untuk mengelolanya.

Sip .. ditunggu ide-ide lainnya mas. Trims sudah berkunjung dan berbagi ide. Salam, -bandung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: