jump to navigation

Masa Kecil: Pengalaman Mengairi Sawah (Leb) Maret 18, 2009

Posted by ybandung in Kisah dan Pengalaman Pribadi.
trackback

Dari link di sini: … Tanaman padi perlu dirawat sesering mungkin. Selain matun (mencabut rumput liar di sawah) atau ngrabuk (memupuk tanaman padi), bapak tani harus memastikan sawahnya selalu basah atau tergenang air. Ketika sawahnya mulai garing (kering), bapak tani harus leb (mengairi sawahnya dengan air irigasi). Leb dibaca dengan bunyi huruf ‘e’ seperti di dalam kata “lebah” …

Saya ikut membantu bapak ibu saya bertani sejak kelas 3 SD. Selain menjadi guru negeri dan berdagang di pasar, bapak ibu saya nggarap sawah sendiri juga bahkan sampai sekarang. Tahun 1985–an saya sudah terbiasa untuk kekrek damen (memotong batang padi yang sudah dipanen), kemudian leb agar tanah menjadi mudah dicangkul, dan kemudian mencangkulnya sembari mendhem (membenamkan) damen yang sudah dikekrek.

Pengalaman repotnya leb oleh cah cilik seperti saya dulu, kalau kebetulan ada orang lain yang sudah tua (pakdhe-pakdhe atau simbah-simbah yang kondhang galaknya). Boro-boro bisa minta sedikit air mengalir ke sawah kita, bisa-bisa kita disuruh nutup saluran air ke sawah kita. Namanya juga cah cilik, digetak (digertak) simbah galak saya keweden dan kiwah-kiwih.

Kalau sudah demikian, pilihannya pulang ke rumah saja nunggu simbah selesai leb, atau kucing-kucingan dengan membuka saluran air ketika simbah pergi ke sawahnya di bawah kemudian sembunyi. Simbah biasanya akan ‘nurut wangang’ (mengontrol aliran air sampai selokan) dan menutup saluran-saluran air baru yang mengalir ke sawah-sawah orang. Begitu simbah turun, saya keluar dari persembunyian dan membuka saluran air lagi ke sawah kita. Hehe .. jahil ya.

Leb sawah bisa memakan waktu lama, tergantung dari debit air di wangang yang dibagi dan luasan sawah yang akan diairi. Seringnya perlu waktu sehari semalam untuk mengairi sawah. Repot kalau harus menunggu sehari semalam di sawah. Yang dilakukan adalah pulang pergi untuk mengontrol proses pengairan sawah kita, baik siang maupun malam hari. Pada saat yang sama, orang lain pun akan melakukan hal yang sama.

Seru sekali buat saya sendiri .. dan saya tidak merasakan bertani lagi semenjak saya masuk SMA karena saya harus tinggal di rumah eyang di kota Yogya, dan setelah itu pindah ke Bandung sampai sekarang ..

Iklan

Komentar»

1. jerzz - Juli 13, 2009

visit my blog
http://jerzz.wordpress.com/

Terima kasih.

2. Risnandar - Desember 18, 2009

Wah..ternyata kurang lebih sama dg masa kecil sy juga Pak šŸ˜€

3. adi s - Januari 29, 2010

lha mbiyen omahmu ngendhi tha pak Yo?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: