jump to navigation

Persawahan dengan Saluran Irigasinya di Kampung Halaman Maret 18, 2009

Posted by ybandung in Discover Wonderful Indonesia.
trackback

Di kampung halaman saya, Minggir-Sleman, sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam pari (padi) di sawah. Kita dapat melihat hamparan tanaman pari di mana-mana. Di sana sering terlihat sekumpulan wedhus (kambing) yang lagi aring (menikmati) makan rumput, sementara sang empunya ngarit suket (mencari rumput) di galengan (pematang sawah) untuk persediaan pakan kambing di rumah. O iya, hasil ngarit disimpan di dalam bagor (karung plastik) untuk memudahkan dibawa ke mana-mana/pulang.

Tanaman padi perlu dirawat sesering mungkin. Selain matun (mencabut rumput liar di sawah) atau ngrabuk (memupuk tanaman padi), bapak tani harus memastikan sawahnya selalu basah atau tergenang air. Ketika sawahnya mulai garing (kering), bapak tani harus leb (mengairi sawahnya dengan air irigasi). Leb dibaca dengan bunyi huruf ‘e’ seperti di dalam kata “lebah”.

PC012561

:: Hamparan persawahan padi di kampung halaman ::

PC012568

:: Selokan kecil ini bersumber dari Selokan Van der Wijck ::

Di persawahan kami, pengairan untuk sawah didapatkan dari Selokan Van der Wijck yang disalurkan melalui selokan-selokan kecil seperti terlihat di dalam foto ke-2. Di beberapa tempat akan terdapat pintu-pintu air (foto ke-3) menuju saluran irigasi yang lebih kecil lagi, kami menyebutnya wangang (foto ke-4) yang menyalurkan air langsung ke sawah-sawah.

Ada dua cara mengairi sawah. Cara pertama, secara langsung yaitu membuat pintu air kecil di galengan yang langsung berbatasan dengan wangang. Membuat pintu air dengan besaran yang wajar saja .. nanti ndha dimarahi banyak orang, karena air dibutuhkan oleh sawah-sawah milik orang lain. 

Cara kedua, secara tidak langsung yaitu mengairi sawah melalui sawah orang lain yang berbatasan dengan wangang. Inilah repotnya kalau memiliki sawah di bagian tengah atau tidak berbatasan langsung dengan wangang. Bapak tani mesti melihat situasi, jika sawah yang akan dilewati sedang atau baru saja ngrabuk sebaiknya menunda leb dulu daripada padu (berantem) dengan pemilik sawah yang akan dilewati. Nanti rabuk (pupuk) berpindah ke sawah berikutnya.  

PC012572

:: Pintu air seloka menuju saluran-saluran air yang lebih kecil (wangang) ::

PC012563

:: Wangang dengan debit air kecil namun digunakan oleh banyak orang ::

Bagaimana mendistribusikan air ke sawah-sawah tidak ada prosedur SOP-nya. Kita (bapak tani) harus rajin leb dan menunggu proses pengairan sawahnya sampai selesai. Jika tidak rajin, tidak ada yang akan mengairi sawahnya. Sukur-sukur ada yang berbaik hati. Jika tidak menunggu proses pengairan, kalau kebetulan orang lain membutuhkan air maka pintu air ke sawah kita kemungkinan akan ditutup.

Seringkali banyak petani melakukan leb pada waktu yang sama. Para petani harus berbagai sithik idhing (sama-sama sedikit). Bukan sama-sama banyak ya? Ya .. air wangang kan sudah kecil, dibagi ke beberapa sawah pasti debitnya akan lebih kecil lagi. Jadi tidak boleh serakah atau akan jadi padudon (pertengkaran) atau dikandha (baca: dikondho dengan bunyi huruf ‘o’ seperti di dalam kata ‘on time’, dipergunjingkan) oleh orang banyak.

Next: Pengalaman leb waktu kecil

Iklan

Komentar»

1. Masa Kecil: Pengalaman Mengairi Sawah (Leb) « Yoanes Bandung & Activities - Maret 18, 2009

[…] 18, 2009 oleh ybandung Dari link di sini: … Tanaman padi perlu dirawat sesering mungkin. Selain matun (mencabut rumput liar di sawah) […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: